Pengunjung Disarankan Menanam Pohon yang Diberi Nama Sesuai Penanamnya
Kertawangi Resort di Cijangel Bandung Utara termasuk megaproyek dengan investasi terbesar di Indonesia. Betapa tidak, nilai yang ditanam sangat fantastis yakni sekitar Rp 100 miliar lebih. Harga ini pantas sebagai upaya pemanfaatan lahan ramah lingkungan.
KARENANYA, proyek yang dikembangkannya berkonsep green design. Ini terinspirasi dari proyek yang sama di Amerika Serikat dan Australia.
Presiden PT Kayu Putih Mekarwangi Resort (KPKR) Rony Lukito begitu semangat
saat mempresentasikan pengembangan Kertawangi Resort Cijangel, Bandung Utara dua hari lalu. Megaproyek yang dirancangnya ini, disebut-sebut sebagai bentuk kanyaah kepada lingkungan di kawasan tersebut yang mulai kritis.
Sekalipun proyek bermuatan bisnis, tapi itu bukan tujuan utamanya, melainkan upaya penyelamatan lingkungan, dan tentu saja memberdayakan masyarakat.
Pengusaha muda asli Bandung ini menepis anggapan sebagian pihak yang menilai rencananya melanggar aturan. Kertawangi Resort Cijangel telah melalui perencanaan yang matang, bahkan diproses sejak beberapa tahun lalu.
“Proyek ini sebagai upaya pengoptimalan fungsi lingkungan, jadi jangan khawatir sebaliknya,” kata Rony meyakinkan. Tidak hanya itu, kepada para wartawan yang hadir, Rony membagikan satu bundel dokumen yang berisi perizinan dan pernyataan ratusan warga di sekitar kawasan tersebut.
Ada juga denah resor serta spesifikasi di dalamnya. Kertawangi Resort adalah taman hutan raya (tahura) sebagai wahana edukasi bagi masyarakat. Setiap pengunjung ke sana dipastikan akan mendapatkan pengetahuan seputar penyelamatan lingkungan.
Misalnya saja, mereka disarankan untuk menanam pohon yang kemudian diberi nama sesuai nama penanamnya. “Misi kami adalah membangun kawasan edukasi berbasis lingkungan,” ungkap Rony.
Resort yang di beberapa titik akan dibangun tempat pemondokan atau pasanggrahan dan restoran, dipastikan tidak akan mengganggu lingkungan. Pasalnya semua bangunan akan dibuat berdasarkan sistem panggung.
Bahkan kalau perlu, tidak menggunakan paku melainkan menggunakan tali. Konsep ini, kata Rony terinspirasi, ketika berkunjung ke Amerika Serikat dan Australia. Pemerintah negara tersebut sama sekali tidak melarang untuk mengeksploitasi hutan, dengan catatan tidak menganggu lingkungan.
“Kalau di Amerika dan Australia saja bisa, tentu di kita juga demikian,” ucapnya. Rony menginginkan, kawasan Kertawangi Resort ini bisa menjadi etalase Jawa Barat. Salah satunya bangunan-bangunan di sana dirancang khas bangunan Jawa Barat.
Di sana juga akan ada pengembangan kesenian Sunda. Tak cukup di situ, di sekitar kawasan akan dibangun pasar tradisional. Nah, pasar tradisional ini diharapkan mampu mengakomodir masyarakat sekitar kawasan, yang mayoritasnya sebagai petani sayur tersebut.
Selain komoditas pertanian, pasar tersebut akan menjual aneka kerajinan Jawa Barat serta makanan-makanan khas Sunda yang belakangan ini mulai menghilang. “Dari mulai ranginang, wajit, wayang golek, sayur mayor, batik khas Parahyangan bisa ditemukan di pasar yang akan dibuat tersebut,” ungkapnya. (*)










